PENENTUAN KONFIGURASI STRUKTUR BATUAN DASAR DAN JENIS CEKUNGAN DENGAN DATA GAYABERAT SERTA IMPLIKASINYA PADA TARGET EKSPLORASI MINYAK DAN GAS BUMI DI PULAU JAWA

Pemetaan struktur dan cekungan sedimentasi di Pulau Jawa dilakukan dengan menggunakan data gayaberat Bouguer. Pemetaan ini bertujuan untuk menemukan dan menambah cadangan serta kapasitas produksi minyak dan gas bumi dari cekungan yang ada. Ini diperlukan karena untuk menemukan lapangan baru berdasarkan play yang sudah terbukti semakin sulit, terutama di cekungan Jawa Barat dan Jawa Timur bagian utara. Selain itu, pemetaan ini juga bertujuan untuk mempelajari beberapa cekungan yang diperkirakan merupakan rift basin yang potensial sebagai penghasil minyak dan gas bumi.

Dalam disertasi ini, pengolahan data gayaberat yang dilakukan meliputi analisis spektrum, penapisan (filtering), menentukan landaian landaian horizontal (horizontal gradient), dan proses dekonvolusi. Pengolahan dan analisis data gayaberat Bouguer menghasilkan adanya dua bidang ketidakselarasan (discontinuity) rapat massa Pulau Jawa, masing-masing pada kedalaman 2.35 km, dan 14 km. Ketidakselarasan dangkal diduga sebagai kedalaman rata-rata batuan dasar sedimen Tersier. Hasil lainnya adalah bahwa perkembangan rift basin di Jawa Barat mengikuti pola struktur Sumatra, yakni baratlaut–tenggara (NW–SE), cekungan di Jawa Tengah berpola struktur barat–timur (W–E). Untuk cekungan di Jawa Timur bagian utara berpola struktur timurlaut–baratdaya (NE–SW), sementara di bagian tengah berpola struktur barat–timur (W–E).

Penelitian ini juga menemukan adanya kontras rapat massa negatif pada kedalaman 17.5 km yang memanjang dengan arah barat–timur. Kontras rapat massa ini ditafsirkan berhubungan dengan tubuh terobosan astenosfer (asthenospheric intrusive body) yang bersuhu tinggi pada kerak bumi. Di beberapa tempat, terobosan astenosfer ini dapat mencapai lapisan kerak bumi dangkal di kedalaman 2.5 km yang dicirikan oleh kontras rapat massa positif.

Studi kematangan batuan induk di pusat cekungan, ekivalen Formasi Talangakar dan Ngimbang, membuktikan bahwa batuan induk tersebut sudah memasuki tahap pembentukan gas. Tetapi di bagian cekungan yang lebih dangkal, tahap pembentukan minyak masih berlangsung.

Disertasi ini telah memberi kontribusi kepada ilmu pengetahuan berupa penemuan metoda baru dalam evaluasi data gayaberat untuk pemetaan cekungan sedimentasi hidrokarbon, yang berkaitan perkembangan rift basin. Metoda dimaksud adalah gabungan kombinasi metoda penapisan moving average dan second vertical derivative serta dekonvolusi gayaberat. Dengan menggunakan metoda tersebut, fasa perkembangan intrusi astenosfer dapat diikuti baik secara lateral maupun vertikal, dengan demikian status tahap perkembangan rift basin dapat ditentukan.

Secara umum penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa sedikitnya terdapat 20 cekungan sedimentasi di Pulau Jawa yang memiliki potensi hidrokarbon terawetkan dalam perangkap sebesar 41 BBOE (low estimate), 187 BBOE (high estimate) dan 113 BBOE (best estimate).

Deskripsi Alternatif :

Since to find out the new field with proven play is more difficult and complicated, especially in North West Java basin and North East Java basin area, another approach had been applied. Mapping of structural and sedimentary basins of the Java Island has been carried out by using Bouguer gravity data. The objectives of those mapping are to discover and to find additional reserve, to increase production within existing basins and to study several rifted basins which are predicted still to have potential to generate hydrocarbon.

In this study, examination and evaluation of the Bouguer gravity data consist of spectrum analysis, filtering, horizontal gradient determination, and deconvolution. The results show the presence of two discontinuity layers due to densities contrast at 2.35 km and 14 km respectively. Shallow discontinuity is predicted as an average depth of Tertiary basement and deep discontinuity is estimated as depth of Moho zone. The structural trend of rifted basin in West Java is aligned with Sumatra trend that is NW-SE, in Central Java is W-E. The trend of North East Java is NE-SW or parallel to Meratus trend, and in Central East Java is W-E.

This study also reveals the existence of low-density contrast at 17.5 km depth that may relate to high temperature asthenospheric intrusive body in lithosphere. In several places, this asthenosphere intrusive body may reach lithosphere as shallow as 2.5 km depth and it is characterized by positive density contrast.

Maturation study of the source rock interval (i.e. TAF and Ngimbang source rock) in the depocenter area confirms that the source rock is already in gas generation stage. On the contrary, in the shallower part of the basin the source rock interval is still in oil generation stage.

This dissertation contributes to the geosciences such as an invention of the new method in gravity data evaluation that is very useful for mapping of sedimentary basin, especially rifted basin. The method combines moving average and second vertical derivative filtering with gravity data deconvolution. The result exhibits evolution of asthenosphere intrusion both vertically and horizontally, so that development stage of the basin can be recognized.

In conclusion, twenty basins in Java may retain potential hydrocarbon as high as 41 BBOE (low estimate), 187 BBOE (high estimate) and 113 BBOE (best estimate).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s